๑۩۞۩๑ .بِسْــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ๑۩۞۩๑
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ
لَكَ خَرْجًا عَلَى أَن تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا
قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا
آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ حَتَّى إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انفُخُوا حَتَّى
إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا
فَمَا اسْطَاعُوا أَن يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا
قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّي فَإِذَا جَاء وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاء وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا
وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا
Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 94-99
قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ
فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَى أَن تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا
("Mereka berkata: 'Hai Dzulkarnain! Sesungguhnya Yakjuj dan Makjuj itu) dikenal dengan nama Yakjuj dan Makjuj. Kedua nama tersebut merupakan nama 'Ajam bagi dua kabilah, dengan demikian maka I'rab -nya tidak menerima tanwin (orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi) mereka gemar merampok dan membuat kerusakan di kala mereka keluar dari sarangnya menuju kami (maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu), yakni upah berupa harta; dan menurut qiraat, yang lain lafal Kharjan dibaca Kharaajan (supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?)' tembok penghalang hingga mereka tidak dapat mencapai kami.
قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا
(Dzulkarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan kepadaku) menurut qiraat, yang lain lafal Makkannii dibaca Makkananii, tanpa di-idgham
-kan (oleh Rabb-ku terhadapnya) terhadap harta benda dan lain-lainnya
(adalah lebih baik) daripada pembayaran kalian yang akan kalian berikan
kepadaku, maka aku tidak memerlukannya lagi, dan aku akan membuat
tembok penghalang buat kalian sebagai sumbangan suka rela dariku
sendiri (maka tolonglah aku dengan kekuatan) apa saja yang aku perlukan
dari kalian (agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka),
yakni tembok penghalang yang kuat dan tak dapat ditembus.
آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ حَتَّى إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انفُخُوا
حَتَّى إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا
("Berilah aku potongan-potongan besi)", maksudnya sebesar bata kecil yang akan dijadikan sebagai bahan bangunan tembok, lalu Dzulkarnain membangun tembok penghalang itu daripadanya, dan dia memakai kayu dan batu bara yang dimasukkan di tengah-tengah tembok besi itu. (Sehingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua puncak gunung itu), lafal Shadafaini dapat dibaca Shudufaini dan Shudfaini, artinya sisi bagian puncak kedua bukit itu telah rata dengan bangunan, kemudian dibuatkannya peniup-peniup dan api sepanjang bangunan tembok itu (berkatalah Dzulkarnain, "Tiuplah api itu"), lalu api itu mereka tiup (Hingga apabila besi itu menjadi) berubah bentuknya menjadi (merah) bagaikan api (dia pun berkata, "Berilah aku tembaga yang mendidih agar kutuangkan ke atas besi panas itu"), maksudnya adalah tembaga yang dilebur. Lafal Aatuunii dan lafal Ufrigh merupakan kedua Fi'il yang saling berebutan terhadap Ma'mul -nya, kemudian dibuanglah Ma'mul dari Fi'il yang pertama karena beramalnya Fi'il yang kedua. Selanjutnya tembaga yang sudah dilebur itu dituangkan ke atas besi yang merah membara, sehingga masuklah tembaga itu ke dalam partikel-partikel potongan besi, akhirnya kedua logam itu menyatu.
فَمَا
اسْطَاعُوا أَن يَظْهَرُوهُ
وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا
Dan tatkala Yakjuj dan Makjuj mengadakan penyerbuan ke tempat tersebut, mereka tidak bisa mendakinya karena tingginya yang luar biasa dan mereka tidak bisa pula melubanginya karena keras dan tebal sekali.
قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّي فَإِذَا جَاء وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاء وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا
Dzulkarnain berkata: "Benteng ini adalah merupakan rahmat karunia dari Tuhanku kepada hamba-Nya, karenanya ia menjadi benteng yang kokoh yang menjaga mereka dari serbuan Yakjuj dan Makjuj. Tetapi apabila telah datang janji Tuhanku tentang keluarnya mereka dari belakang benteng, maka Dia akan menjadikannya hancur luluh sama rata lagi dengan tanah karena Allah memberi kuasa kepada suatu kaum untuk menghancurkannya dan janji Tuhanku itu adalah benar tidak dapat diragukan."
Menurut ahli sejarah ucapan Dzulkarnain ini terbukti dengan munculnya, raja Jengis Khan yang Telah membuat kerusakan di muka bumi dari Timur sampai ke Barat dan mengadakan tindakan-tindakan yang menghancurkan benteng besi dan kerajaan Islam di Bagdad. Adapun sebabnya raja Jengis Khan ini mengadakan penyerbuan ke negeri Bagdad, oleh karena Sultan Khuwarazmi Saljuki telah membunuh beberapa utusan dan pedagang-pedagang yang diutus dari negerinya. Harta benda mereka dirampas dan diadakan pula serbuan-serbuan ke tapal batas negerinya sehingga menimbulkan kemarahan raja Jengis Khan. Lalu ia menulis surat kepada Sultan Bagdad itu dengan kata-kata yang pedas sebagai berikut:

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ummu Habibah Radhiyallahu 'Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pada suatu hari masuk ke rumah istrinya, Siti Zainab binti Jahsy Radhiyallahu 'Anha dan dengan terkejut beliau mengatakan:
Dan beliau melingkarkan jari tangan telunjuknya dengan ibu jarinya. Lalu Zainab bertanya:
Beliau menjawab:
Sejak hari itu lubang di dalam benteng semakin hari semakin besar. Pada abad ke-7 Hijriyah, datanglah tentara raja Jengis Khan menyerbu dan menimbulkan berbagai kerusakan di muka bumi terutama di negeri Bagdad.
Kebanyakan ulama menyatakan, bahwa bangsa itu terus eksis hingga kini, tetapi dipisahkan dari dunia manusia oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan tetap di dalam tembok yang dibangun oleh Dzulkarnain itu. Tugas bangsa itu setiap hari sejak ribuan tahun lalu adalah mengorek atau melubangi tembok tersebut. Allah 'Azza wa Jalla kelak akan mengizinkan tembok itu runtuh, lalu Yakjuj dan Makjuj bebas ke dunia manusia pada saat mendekati hari kiamat di mana peristiwa itu menjadi salah satu dari 10 tanda besar kiamat.
وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا
Pada hari hancurnya benteng besi itu, maka keluarlah Yakjuj dan Makjuj muncul dan belakang benteng gelombang demi gelombang, merusak tanaman dan harta benda seperti yang tersebut dalam firman Allah:
حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ
Pada hari terbukanya tembok itu Kami biarkan mereka bercampur aduk dalam keadaan kacau balau, kemudian situasi itu akan mengingatkan penghuni bumi ketika ditiup sangkakala oleh Malaikat Israfil pada hari Kiamat, lalu dikumpulkan mereka di Padang Mahsyar untuk diadili. Sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
قُلْ إِنَّ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ لَمَجْمُوعُونَ إِلَى مِيقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُومٍ
Dan juga firman-Nya:
وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا
_________________
Tafsir di atas diambil dari Tafsir Jalalain karya: Jalaluddin asy-Syuyuthi dan Jalaluddin Muhammad Ibn Ahmad al-Mahalliy Rahimahumullah dan juga dari Tafsir Depertemen Agama Republik Indonesia.

Kisah Yakjuj dan Makjuj
Jenis dan Asal Usul Yakjuj dan Makjuj
Berdasarkan pendapat yang paling kuat, Yakjuj dan Makjuj merupakan isim ‘Ajam dan Laqab (julukan). Para ulama sepakat, bahwa Yakjuj dan Makjuj termasuk spesies manusia. Hanya saja, para ulama berbeda dalam menentukan siapa nenek moyangnya. Ada yang menyebutkan dari sulbi Adam 'Alaihis Salam dan Hawa, atau dari Adam saja. Ada pula yang menyebut dari sulbi Nabi Nuh ‘Alaihis Salam dari keturunan Syis/At-Turk menurut hadits Ibnu Katsir. Sebagaimana dijelaskan dalam tarikh, Nabi Nuh mempunyai tiga anak: Sam, Ham, Syis/At-Turk. Ada lagi yang menyebut keturunan dari Yafuts bin Nuh.
Menurut Al-Maraghi, Yakjuj dan Makjuj berasal dari satu ayah yaitu: Turk. Yakjuj adalah At-Tatar (Tartar) dan Makjuj adalah Al-Maghul (Mongol), namun keterangan ini tidak kuat. Mereka tinggal di Asia bagian Timur dan menguasai dari Tibet, China sampai Turkistan Barat dan Tamujin. Mereka dikenal sebagai Jengis Khan (berarti Raja Dunia) pada abad ke-7 H di Asia Tengah dan menaklukan Cina Timur. Ditaklukan oleh Quthbuddin Bin Armilan dari Raja Khuwarizmi yang diteruskan oleh anaknya Aqthay. Batu, anak saudaranya menukar dengan negara Rusia tahun 723 H dan menghancurkan Babilon dan Hongaria. Kemudian digantikan Jaluk dan dijajah Romawi dengan menggantikan anak saudaranya Manju, diganti saudaranya Kilay yang menaklukan Cina.
Saudaranya Hulako menundukan negara Islam dan menjatuhkan Bagdad pada masa daulah Abasia ketika dipimpin Khalifah Al-Mu’tashim Billah pertengahan abad ke-7 H/656 H.
Yakjuj dan Makjuj adalah kaum yang banyak keturunannya. Menurut mitos, mereka tidak mati sebelum melihat seribu anak lelakinya membawa senjata. Mereka taat pada peraturan masyarakat, adab dan pemimpinnya. Ada yang menyebut mereka berperawakan sangat tinggi sampai beberapa meter, dan ada pula yang sangat pendek sampai beberapa centimeter. Konon, telinga mereka panjang, tapi ini tidak berdasar.
Pada QS. Al-Kahfi:94, Yakjuj dan Makjuj adalah kaum yang kasar dan biadab. Jika mereka melewati perkampungan, mereka akan membabat semua yang menghalangi dan merusaknya, atau bila perlu membunuh penduduknya. Karenya, ketika Dzulkarnain datang, mereka (para penduduk) meminta dibuatkan benteng agar mereka (Yakjuj dan Makjuj) tidak dapat menembus dan mengusik ketenangan penduduk.

Siapakah Dzulkarnain?
Menurut versi Barat, Dzulkarnain adalah Iskandar bin Philips Al-Maqduny Al-Yunany (orang Mecedonia, Yunani). Ia berkuasa selama 330 tahun. Membangun Iskandariah dan murid Aristoteles. Memerangi Persia dan menikahi puterinya. Mengadakan ekspansi ke India dan menaklukan Mesir.
Menurut Asy-Syaukany, pendapat di atas sulit diterima, karena hal ini mengisyaratkan ia seorang kafir dan filosof. Sedangkan Al-Quran menyebutkan:
Menurut sejarawan Muslim, Dzulkarnain adalah julukan Abu Karb Al-Himyari atau Abu Bakar Bin Ifraiqisy dari daulah Al-Jumairiyah (115 SM–552 M.). Kerajaannya disebut At-Tababi’ah. Dijuluki Dzulkarnain (Pemilik dua tanduk; karena menurut sebuah riwayat, Dzulkarnain memang memiliki semacam 2 tulang kecil di atas kepalanya, tapi tidak terlihat karena tertutup oleh sorbannya), karena kekuasaannya yang sangat luas, mulai ujung tanduk matahari di Barat sampai Timur. Menurut Ibnu Abbas, ia adalah seorang raja yang shaleh.
Dzulkarnain seorang pengembara dan ketika sampai di antara dua gunung antara Armenia dan Azarbaijan, atas permintaan penduduk, Dzulkarnain membangun benteng. Para arkeolog menemukan benteng tersebut pada awal abad ke-15 M, di belakang Jeihun dalam ekspedisi Balkh dan disebut sebagai "Babul Hadid" (Pintu Besi) di dekat Tarmidz. Timurleng pernah melewatinya, juga Syah Rukh dan ilmuwan German Slade Verger. Arkeolog Spanyol Klapigeo pada tahun 1403 H. Pernah diutus oleh Raja Qisythalah di Andalus ke sana dan bertamu pada Timurleng. "Babul Hadid" adalah jalan penghubung antara Samarqindi dan India.
Benarkah Tembok Cina Adalah Tembok Dzulkarnain?
Banyak orang menyangka itulah tembok yang dibuat oleh Dzulkarnain dalam surat Al-Kahfi. Dan yang disebut Yakjuj dan Makjuj adalah bangsa Mongol dari Utara yang merusak dan menghancurkan negeri-negeri yang mereka taklukkan. Mari kita cermati kelanjutan surat Al-Kahfi ayat 95-98 tentang itu.
Dzulkarnain memenuhi permintaan penduduk setempat untuk membuatkan tembok pembatas. Dia meminta bijih besi dicurahkan ke lembah antara dua bukit. Lalu minta api dinyalakan sampai besi mencair. Maka jadilah tembok logam yang licin tidak bisa dipanjat.
Ada tiga hal yang berbeda antara Tembok Cina dan Tembok Dzulkarnain:
Pertama, tembok Cina terbuat dari batu-batu besar yang disusun, bukan dari besi.
Kedua, tembok itu dibangun bertahap selama ratusan tahun oleh raja-raja Dinasti Han, Ming, dan seterusnya, sambung-menyambung.
Ketiga, dalam Al-Kahfi:86, ketika bertemu dengan suatu kaum di Barat, Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

Beberapa Penelitian Tembok Yakjuj dan Makjuj
Abdullah Yusuf Ali dalam tafsir The Holy Qur’an menulis bahwa di distrik Hissar, Uzbekistan, 240 km di sebelah tenggara Bukhara, ada celah sempit di antara gunung-gunung batu. Letaknya di jalur utama antara Turkestan ke India dengan ordinat 38oN dan 67oE. Tempat itu kini bernama buzghol-khana dalam bahasa Turki, tetapi dulu nama Arabnya adalah bab al-hadid. Orang Persia menyebutnya dar-i-ahani. Orang Cina menamakannya tie-men-kuan. Semuanya bermakna pintu gerbang besi.
Hiouen Tsiang, seorang pengembara Cina pernah melewati pintu berlapis besi itu dalam perjalanannya ke India di abad ke-7. Tidak jauh dari sana ada danau yang dinamakan Iskandar Kul. Di tahun 842 Khalifah Bani Abbasiyah, al-Watsiq, mengutus sebuah tim ekspedisi ke gerbang besi tadi. Mereka masih mendapati gerbang di antara gunung selebar 137 meter dengan kolom besar di kiri kanan terbuat dari balok-balok besi yang dicor dengan cairan tembaga, tempat bergantung daun pintu raksasa. Persis seperti bunyi surat Al Kahfi. Pada Perang Dunia II, konon Winston Churchill, pemimpin Inggris, mengenali gerbang besi itu.
Letak Perkiraan Tembok Besi Berada
Apa pun tentang keberadaan dinding penutup tersebut, ia memang terbukti ada sampai sekarang di Azerbaijan dan Armenia. Tepatnya ada di pegunungan yang sangat tinggi dan sangat keras. Ia berdiri tegak seolah-olah diapit oleh dua buah tembok yang sangat tinggi. Tempat itu tercantum pada peta-peta Islam maupun Rusia, terletak di republik Georgia.
Al-Syarif al-Idrisi menegaskan hal itu melalui riwayat penelitian yang dilakukan Sallam, staf peneliti pada masa Khalifah al-Watsiq Billah (Abbasiah). Konon, Al-Watsiq pernah bermimpi tembok penghalang yang dibangun Iskandar Dzulkarnain untuk memenjarakan Yakjuj dan Makjuj terbuka.
Mimpi itu mendorong Khalifah untuk mengetahui perihal tembok itu saat itu, juga lokasi pastinya. Al-Watsiq menginstruksikan kepada Sallam untuk mencari tahu tentang tembok itu. Saat itu Sallam ditemani 50 orang. Penelitian tersebut memakan biaya besar. Tersebut dalam Nuzhat al-Musytaq, buku geografi, karya al-Idrisi, Al-Watsiq mengeluarkan biaya 5000 dinar untuk penelitian ini.
Rombongan Sallam berangkat ke Armenia. Di situ ia menemui Ishaq bin Ismail, penguasa Armenia. Dari Armenia ia berangkat lagi ke arah utara ke daerah-daerah Rusia. Ia membawa surat dari Ishaq ke penguasa Sarir, lalu ke Raja Lan, lalu ke penguasa Faylan (nama-nama daerah ini tidak dikenal sekarang). Penguasa Faylan mengutus lima penunjuk jalan untuk membantu Sallam sampai ke pegunungan Yakjuj dan Makjuj.
27 hari Sallam mengarungi puing-puing daerah Basjarat. Ia kemudian tiba di sebuah daerah luas bertanah hitam berbau tidak enak. Selama 10 hari, Sallam melewati daerah yang menyesakkan itu. Ia kemudian tiba di wilayah berantakan, tak berpenghuni. Penunjuk jalan mengatakan kepada Sallam bahwa daerah itu adalah daerah yang dihancurkan oleh Yakjuj dan Makjuj tempo dulu. Selama 6 hari, berjalan menuju daerah benteng. Daerah itu berpenghuni dan berada di balik gunung tempat Yakjuj-Makjuj berada.
Sallam kemudian pergi menuju pegunungan Yakjuj-Makjuj. Di situ ia melihat pegunungan yang terpisah lembah. Luas lembah sekitar 150 meter. Lembah ini ditutup tembok berpintu besi sekitar 50 meter.
Dalam Nuzhat al-Musytaq, gambaran Sallam tentang tembok dan pintu besi itu disebutkan dengan sangat detail (Anda yang ingin tahu bentuk detailnya, silakan baca: Muzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq, karya al-Syarif al-Idrisi, hal. 934 -938).
Al-Idrisi juga menceritakan bahwa menurut cerita Sallam penduduk di sekitar pegunungan biasanya memukul kunci pintu besi 3 kali dalam sehari. Setelah itu mereka menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengarkan reaksi dari dalam pintu. Ternyata, mereka mendengar gema teriakan dari dalam. Hal itu menunjukkan bahwa di dalam pintu betul-betul ada makhluk jenis manusia yang konon Yakjuj dan Makjuj itu.
Yakjuj dan Makjuj sendiri, menurut penuturan al-Syarif al-Idrisi dalam Nuzhat al-Musytaq, adalah dua suku keturunan Sam bin Nuh. Mereka sering mengganggu, menyerbu, dan membunuh suku-suku lain. Mereka pembuat onar dan sering menghancurkan suatu daerah. Masyarakat mengadukan kelakuan suku Yakjuj dan Makjuj kepada Iskandar Dzulkarnain, Raja Macedonia. Iskandar kemudian menggiring (mengusir) mereka ke sebuah pegunungan, lalu menutupnya dengan tembok dan pintu besi.
Menjelang Kiamat nanti, pintu itu akan jebol. Mereka keluar dan membuat onar dunia, sampai turunnya Nabi Isa al-Masih 'Alaihis Salam, di mana mereka muncul setelah kematian Dajjal yang dibunuh Nabi Isa 'Alaihis Salam, dan bangsa itu akan mendatangkan kerusakan besar di muka bumi. Kekuatan mereka dikatakan luar biasa dan terlalu hebat sehingga tidak ada siapa pun yang mampu menandingi mereka itu. Nabi Isa memerintahkan manusia yang masih beriman untuk berlindung di pegunungan untuk menghindari bangsa Yakjuj dan Makjuj. Nabi Isa kemudian berdo'a kepada Allah Ta'ala dan Allah membinasakan mereka dengan mengirimkan ulat yang menyerang belakang badan mereka itu hingga mati. Selepas bangsa Yakjuj dan Makjuj binasa serta membusuk, lalu Allah mengutus seekor burung besar untuk mengangkut dan membersihkan mayat-mayat mereka itu dari permukaan bumi.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah menyatakan kebimbangannya, yaitu pada zamannya, Yakjuj dan Makjuj dikatakan sudah berhasil melubangi benteng Dzulkarnain sebesar bulatan yang beliau bentuk dengan ibu jari dan telunjuknya.
Dalam Nuzhat al-Musytaq, al-Syarif al-Idrisi juga menuturkan bahwa Sallam pernah bertanya kepada penduduk sekitar pegunungan, apakah ada yang pernah melihat Yakjuj dan Makjuj. Mereka mengaku pernah melihat gerombolan orang di atas tembok penutup. Lalu angin badai bertiup melemparkan mereka. Penduduk di situ melihat tubuh mereka sangat kecil. Setelah itu, Sallam pulang melalui Taraz (Kazakhtan), kemudian Samarkand (Uzbekistan), lalu kota Ray (Iran), dan kembali ke istana al-Watsiq di Surra Man Ra’a, Iraq. Ia kemudian menceritakan dengan detail hasil penelitiannya kepada Khalifah.
Kalau menurut penuturan Ibnu Bathuthah dalam kitab Rahlat Ibn Bathuthah, pegunungan Yakjuj-Makjuj berada sekitar perjalanan 6 hari dari Cina. Penuturan ini tidak bertentangan dengan al-Syarif al-Idrisi. Soalnya di sebelah Barat Laut Cina adalah daerah-daerah Rusia.
___________________
Diolah dari berbagai sumber.
الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ – وَاَللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Semoga bermanfaat dan menjadi i'tibar bagi kita semua.
Dan semoga dapat menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah 'Azza wa Jalla, menambah wawasan, sekaligus pengetahuan kita semua.
Shalawat dan salam semoga Allah Ta'ala curahkan atas Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, juga kepada para keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya, termasuk kita sekalian hingga yaumul hisab.
Aamiin Ya Kariim.
Jazakumullah khayran katsiira wa barakallahu fiikum.
Salam ukhuwah selalu.
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ
لَكَ خَرْجًا عَلَى أَن تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا
قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا
آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ حَتَّى إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انفُخُوا حَتَّى
إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا
فَمَا اسْطَاعُوا أَن يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا
قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّي فَإِذَا جَاء وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاء وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا
وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا
"Mereka berkata: 'Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Yakjuj dan Makjuj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?'(QS. Al-Kahfi:94-99).
Dzulkarnain berkata: 'Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka,
berilah aku potongan-potongan besi.'
Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: 'Tiuplah (api itu).'
Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: 'Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu.'
Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya.
Dzulkarnain berkata: 'Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar.'
Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya."
Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 94-99 قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ
فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَى أَن تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا
"Mereka berkata: 'Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Yakjuj dan Makjuj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka'?"(Ayat 94).
("Mereka berkata: 'Hai Dzulkarnain! Sesungguhnya Yakjuj dan Makjuj itu) dikenal dengan nama Yakjuj dan Makjuj. Kedua nama tersebut merupakan nama 'Ajam bagi dua kabilah, dengan demikian maka I'rab -nya tidak menerima tanwin (orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi) mereka gemar merampok dan membuat kerusakan di kala mereka keluar dari sarangnya menuju kami (maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu), yakni upah berupa harta; dan menurut qiraat, yang lain lafal Kharjan dibaca Kharaajan (supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?)' tembok penghalang hingga mereka tidak dapat mencapai kami.
قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا
"Dzulkarnain berkata: 'Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka..,'(Ayat 95).
(Dzulkarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan kepadaku) menurut qiraat, yang lain lafal Makkannii dibaca Makkananii, tanpa di-idgham
-kan (oleh Rabb-ku terhadapnya) terhadap harta benda dan lain-lainnya
(adalah lebih baik) daripada pembayaran kalian yang akan kalian berikan
kepadaku, maka aku tidak memerlukannya lagi, dan aku akan membuat
tembok penghalang buat kalian sebagai sumbangan suka rela dariku
sendiri (maka tolonglah aku dengan kekuatan) apa saja yang aku perlukan
dari kalian (agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka),
yakni tembok penghalang yang kuat dan tak dapat ditembus.آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ حَتَّى إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انفُخُوا
حَتَّى إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا
'.. berilah aku potongan-potongan besi.' Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: 'Tiuplah (api itu).' Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: 'Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu.'(Ayat 96).
("Berilah aku potongan-potongan besi)", maksudnya sebesar bata kecil yang akan dijadikan sebagai bahan bangunan tembok, lalu Dzulkarnain membangun tembok penghalang itu daripadanya, dan dia memakai kayu dan batu bara yang dimasukkan di tengah-tengah tembok besi itu. (Sehingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua puncak gunung itu), lafal Shadafaini dapat dibaca Shudufaini dan Shudfaini, artinya sisi bagian puncak kedua bukit itu telah rata dengan bangunan, kemudian dibuatkannya peniup-peniup dan api sepanjang bangunan tembok itu (berkatalah Dzulkarnain, "Tiuplah api itu"), lalu api itu mereka tiup (Hingga apabila besi itu menjadi) berubah bentuknya menjadi (merah) bagaikan api (dia pun berkata, "Berilah aku tembaga yang mendidih agar kutuangkan ke atas besi panas itu"), maksudnya adalah tembaga yang dilebur. Lafal Aatuunii dan lafal Ufrigh merupakan kedua Fi'il yang saling berebutan terhadap Ma'mul -nya, kemudian dibuanglah Ma'mul dari Fi'il yang pertama karena beramalnya Fi'il yang kedua. Selanjutnya tembaga yang sudah dilebur itu dituangkan ke atas besi yang merah membara, sehingga masuklah tembaga itu ke dalam partikel-partikel potongan besi, akhirnya kedua logam itu menyatu.
فَمَا
اسْطَاعُوا أَن يَظْهَرُوهُ
وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا"Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya."(Ayat 97).
Dan tatkala Yakjuj dan Makjuj mengadakan penyerbuan ke tempat tersebut, mereka tidak bisa mendakinya karena tingginya yang luar biasa dan mereka tidak bisa pula melubanginya karena keras dan tebal sekali.
قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّي فَإِذَا جَاء وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاء وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا
"Dzulkarnain berkata: 'Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar'."(Ayat 98).
Dzulkarnain berkata: "Benteng ini adalah merupakan rahmat karunia dari Tuhanku kepada hamba-Nya, karenanya ia menjadi benteng yang kokoh yang menjaga mereka dari serbuan Yakjuj dan Makjuj. Tetapi apabila telah datang janji Tuhanku tentang keluarnya mereka dari belakang benteng, maka Dia akan menjadikannya hancur luluh sama rata lagi dengan tanah karena Allah memberi kuasa kepada suatu kaum untuk menghancurkannya dan janji Tuhanku itu adalah benar tidak dapat diragukan."
Menurut ahli sejarah ucapan Dzulkarnain ini terbukti dengan munculnya, raja Jengis Khan yang Telah membuat kerusakan di muka bumi dari Timur sampai ke Barat dan mengadakan tindakan-tindakan yang menghancurkan benteng besi dan kerajaan Islam di Bagdad. Adapun sebabnya raja Jengis Khan ini mengadakan penyerbuan ke negeri Bagdad, oleh karena Sultan Khuwarazmi Saljuki telah membunuh beberapa utusan dan pedagang-pedagang yang diutus dari negerinya. Harta benda mereka dirampas dan diadakan pula serbuan-serbuan ke tapal batas negerinya sehingga menimbulkan kemarahan raja Jengis Khan. Lalu ia menulis surat kepada Sultan Bagdad itu dengan kata-kata yang pedas sebagai berikut:
"Mengapa kamu berani membunuh sahabat-sahabatku dan merampas harta benda perniagaanku. Apakah kamu membangunkan fitnah yang sedang tidur dan menimbulkan kejahatan-kejahatan yang tersembunyi.
Tidakkah Nabimu memberikan wasiat kepadamu supaya jangan berbuat aniaya. Oleh karena itu tinggalkanlah bangsa Turki selagi mereka tidak mengganggu kamu. Mengapa kamu sakiti tetanggamu padahal Nabimu sendiri telah berwasiat untuk menghormati tetangga. Dan inilah wasiatku kepadamu, 'Peliharalah baik-baik dan pertimbangkanlah kebijaksanaanmu sebelum timbulnya rasa dendam dan sebelum terbukanya benteng besi. Dan Allah pasti akan menolong setiap orang yang dianiaya, karena itu tunggulah kedatangan Yakjuj dan Makjuj yang akan turun dari tiap-tiap tempat yang tinggi'."

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ummu Habibah Radhiyallahu 'Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pada suatu hari masuk ke rumah istrinya, Siti Zainab binti Jahsy Radhiyallahu 'Anha dan dengan terkejut beliau mengatakan:
"La ilaha illallah, celakalah bagi orang Arab dari suatu kejahatan yang telah mendekati, hari ini terbuka dari Benteng Yakjuj dan Makjuj lubang besar seperti ini."
Dan beliau melingkarkan jari tangan telunjuknya dengan ibu jarinya. Lalu Zainab bertanya:
"Ya Rasulullah,apakah kami akan binasa padahal di kalangan kami terdapat banyak orang-orang yang saleh?"
Beliau menjawab:
"Ya, apabila kejahatan sudah bertumpuk-tumpuk."
Sejak hari itu lubang di dalam benteng semakin hari semakin besar. Pada abad ke-7 Hijriyah, datanglah tentara raja Jengis Khan menyerbu dan menimbulkan berbagai kerusakan di muka bumi terutama di negeri Bagdad.
Kebanyakan ulama menyatakan, bahwa bangsa itu terus eksis hingga kini, tetapi dipisahkan dari dunia manusia oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan tetap di dalam tembok yang dibangun oleh Dzulkarnain itu. Tugas bangsa itu setiap hari sejak ribuan tahun lalu adalah mengorek atau melubangi tembok tersebut. Allah 'Azza wa Jalla kelak akan mengizinkan tembok itu runtuh, lalu Yakjuj dan Makjuj bebas ke dunia manusia pada saat mendekati hari kiamat di mana peristiwa itu menjadi salah satu dari 10 tanda besar kiamat.
وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا
"Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya."(Ayat 99).
Pada hari hancurnya benteng besi itu, maka keluarlah Yakjuj dan Makjuj muncul dan belakang benteng gelombang demi gelombang, merusak tanaman dan harta benda seperti yang tersebut dalam firman Allah:
حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ
"Hingga apabila dibukakan (tembok) Yakjuj dan Makjuj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi."(QS. Al-Anbiya:96).
Pada hari terbukanya tembok itu Kami biarkan mereka bercampur aduk dalam keadaan kacau balau, kemudian situasi itu akan mengingatkan penghuni bumi ketika ditiup sangkakala oleh Malaikat Israfil pada hari Kiamat, lalu dikumpulkan mereka di Padang Mahsyar untuk diadili. Sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
قُلْ إِنَّ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ لَمَجْمُوعُونَ إِلَى مِيقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُومٍ
"Katakanlah, 'Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian, benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal'."(QS. Al-Waqi'ah:49-50).
Dan juga firman-Nya:
وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا
"Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorangpun dari mereka."(QS. Al-Kahfi:47).
_________________
Tafsir di atas diambil dari Tafsir Jalalain karya: Jalaluddin asy-Syuyuthi dan Jalaluddin Muhammad Ibn Ahmad al-Mahalliy Rahimahumullah dan juga dari Tafsir Depertemen Agama Republik Indonesia.

Kisah Yakjuj dan Makjuj
Jenis dan Asal Usul Yakjuj dan Makjuj
Berdasarkan pendapat yang paling kuat, Yakjuj dan Makjuj merupakan isim ‘Ajam dan Laqab (julukan). Para ulama sepakat, bahwa Yakjuj dan Makjuj termasuk spesies manusia. Hanya saja, para ulama berbeda dalam menentukan siapa nenek moyangnya. Ada yang menyebutkan dari sulbi Adam 'Alaihis Salam dan Hawa, atau dari Adam saja. Ada pula yang menyebut dari sulbi Nabi Nuh ‘Alaihis Salam dari keturunan Syis/At-Turk menurut hadits Ibnu Katsir. Sebagaimana dijelaskan dalam tarikh, Nabi Nuh mempunyai tiga anak: Sam, Ham, Syis/At-Turk. Ada lagi yang menyebut keturunan dari Yafuts bin Nuh.
Menurut Al-Maraghi, Yakjuj dan Makjuj berasal dari satu ayah yaitu: Turk. Yakjuj adalah At-Tatar (Tartar) dan Makjuj adalah Al-Maghul (Mongol), namun keterangan ini tidak kuat. Mereka tinggal di Asia bagian Timur dan menguasai dari Tibet, China sampai Turkistan Barat dan Tamujin. Mereka dikenal sebagai Jengis Khan (berarti Raja Dunia) pada abad ke-7 H di Asia Tengah dan menaklukan Cina Timur. Ditaklukan oleh Quthbuddin Bin Armilan dari Raja Khuwarizmi yang diteruskan oleh anaknya Aqthay. Batu, anak saudaranya menukar dengan negara Rusia tahun 723 H dan menghancurkan Babilon dan Hongaria. Kemudian digantikan Jaluk dan dijajah Romawi dengan menggantikan anak saudaranya Manju, diganti saudaranya Kilay yang menaklukan Cina.
Saudaranya Hulako menundukan negara Islam dan menjatuhkan Bagdad pada masa daulah Abasia ketika dipimpin Khalifah Al-Mu’tashim Billah pertengahan abad ke-7 H/656 H.
Yakjuj dan Makjuj adalah kaum yang banyak keturunannya. Menurut mitos, mereka tidak mati sebelum melihat seribu anak lelakinya membawa senjata. Mereka taat pada peraturan masyarakat, adab dan pemimpinnya. Ada yang menyebut mereka berperawakan sangat tinggi sampai beberapa meter, dan ada pula yang sangat pendek sampai beberapa centimeter. Konon, telinga mereka panjang, tapi ini tidak berdasar.
Pada QS. Al-Kahfi:94, Yakjuj dan Makjuj adalah kaum yang kasar dan biadab. Jika mereka melewati perkampungan, mereka akan membabat semua yang menghalangi dan merusaknya, atau bila perlu membunuh penduduknya. Karenya, ketika Dzulkarnain datang, mereka (para penduduk) meminta dibuatkan benteng agar mereka (Yakjuj dan Makjuj) tidak dapat menembus dan mengusik ketenangan penduduk.

Siapakah Dzulkarnain?
Menurut versi Barat, Dzulkarnain adalah Iskandar bin Philips Al-Maqduny Al-Yunany (orang Mecedonia, Yunani). Ia berkuasa selama 330 tahun. Membangun Iskandariah dan murid Aristoteles. Memerangi Persia dan menikahi puterinya. Mengadakan ekspansi ke India dan menaklukan Mesir.
Menurut Asy-Syaukany, pendapat di atas sulit diterima, karena hal ini mengisyaratkan ia seorang kafir dan filosof. Sedangkan Al-Quran menyebutkan:
"Kami (Allah) mengokohkannya di bumi dan Kami memberikan kepadanya sebab segala sesuatu."(QS. Al-Kahfi:84).
Menurut sejarawan Muslim, Dzulkarnain adalah julukan Abu Karb Al-Himyari atau Abu Bakar Bin Ifraiqisy dari daulah Al-Jumairiyah (115 SM–552 M.). Kerajaannya disebut At-Tababi’ah. Dijuluki Dzulkarnain (Pemilik dua tanduk; karena menurut sebuah riwayat, Dzulkarnain memang memiliki semacam 2 tulang kecil di atas kepalanya, tapi tidak terlihat karena tertutup oleh sorbannya), karena kekuasaannya yang sangat luas, mulai ujung tanduk matahari di Barat sampai Timur. Menurut Ibnu Abbas, ia adalah seorang raja yang shaleh.
Dzulkarnain seorang pengembara dan ketika sampai di antara dua gunung antara Armenia dan Azarbaijan, atas permintaan penduduk, Dzulkarnain membangun benteng. Para arkeolog menemukan benteng tersebut pada awal abad ke-15 M, di belakang Jeihun dalam ekspedisi Balkh dan disebut sebagai "Babul Hadid" (Pintu Besi) di dekat Tarmidz. Timurleng pernah melewatinya, juga Syah Rukh dan ilmuwan German Slade Verger. Arkeolog Spanyol Klapigeo pada tahun 1403 H. Pernah diutus oleh Raja Qisythalah di Andalus ke sana dan bertamu pada Timurleng. "Babul Hadid" adalah jalan penghubung antara Samarqindi dan India.
Benarkah Tembok Cina Adalah Tembok Dzulkarnain?
Banyak orang menyangka itulah tembok yang dibuat oleh Dzulkarnain dalam surat Al-Kahfi. Dan yang disebut Yakjuj dan Makjuj adalah bangsa Mongol dari Utara yang merusak dan menghancurkan negeri-negeri yang mereka taklukkan. Mari kita cermati kelanjutan surat Al-Kahfi ayat 95-98 tentang itu.
Dzulkarnain memenuhi permintaan penduduk setempat untuk membuatkan tembok pembatas. Dia meminta bijih besi dicurahkan ke lembah antara dua bukit. Lalu minta api dinyalakan sampai besi mencair. Maka jadilah tembok logam yang licin tidak bisa dipanjat.
Ada tiga hal yang berbeda antara Tembok Cina dan Tembok Dzulkarnain:
Pertama, tembok Cina terbuat dari batu-batu besar yang disusun, bukan dari besi.
Kedua, tembok itu dibangun bertahap selama ratusan tahun oleh raja-raja Dinasti Han, Ming, dan seterusnya, sambung-menyambung.
Ketiga, dalam Al-Kahfi:86, ketika bertemu dengan suatu kaum di Barat, Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Wahai Dzulkarnain, terserah padamu apakah akan engkau siksa kaum itu atau engkau berikan kebaikan pada mereka."Artinya, Zulkarnain mendapat wahyu langsung dari Allah, sedangkan raja-raja Cina itu tidak. Maka jelaslah bahwa tembok Cina bukan yang dimaksud dalam surat Al-Kahfi. Jadi di manakah tembok Dzulkarnain?

Beberapa Penelitian Tembok Yakjuj dan Makjuj
Abdullah Yusuf Ali dalam tafsir The Holy Qur’an menulis bahwa di distrik Hissar, Uzbekistan, 240 km di sebelah tenggara Bukhara, ada celah sempit di antara gunung-gunung batu. Letaknya di jalur utama antara Turkestan ke India dengan ordinat 38oN dan 67oE. Tempat itu kini bernama buzghol-khana dalam bahasa Turki, tetapi dulu nama Arabnya adalah bab al-hadid. Orang Persia menyebutnya dar-i-ahani. Orang Cina menamakannya tie-men-kuan. Semuanya bermakna pintu gerbang besi.
Hiouen Tsiang, seorang pengembara Cina pernah melewati pintu berlapis besi itu dalam perjalanannya ke India di abad ke-7. Tidak jauh dari sana ada danau yang dinamakan Iskandar Kul. Di tahun 842 Khalifah Bani Abbasiyah, al-Watsiq, mengutus sebuah tim ekspedisi ke gerbang besi tadi. Mereka masih mendapati gerbang di antara gunung selebar 137 meter dengan kolom besar di kiri kanan terbuat dari balok-balok besi yang dicor dengan cairan tembaga, tempat bergantung daun pintu raksasa. Persis seperti bunyi surat Al Kahfi. Pada Perang Dunia II, konon Winston Churchill, pemimpin Inggris, mengenali gerbang besi itu.
Letak Perkiraan Tembok Besi Berada
Apa pun tentang keberadaan dinding penutup tersebut, ia memang terbukti ada sampai sekarang di Azerbaijan dan Armenia. Tepatnya ada di pegunungan yang sangat tinggi dan sangat keras. Ia berdiri tegak seolah-olah diapit oleh dua buah tembok yang sangat tinggi. Tempat itu tercantum pada peta-peta Islam maupun Rusia, terletak di republik Georgia.
Al-Syarif al-Idrisi menegaskan hal itu melalui riwayat penelitian yang dilakukan Sallam, staf peneliti pada masa Khalifah al-Watsiq Billah (Abbasiah). Konon, Al-Watsiq pernah bermimpi tembok penghalang yang dibangun Iskandar Dzulkarnain untuk memenjarakan Yakjuj dan Makjuj terbuka.
Mimpi itu mendorong Khalifah untuk mengetahui perihal tembok itu saat itu, juga lokasi pastinya. Al-Watsiq menginstruksikan kepada Sallam untuk mencari tahu tentang tembok itu. Saat itu Sallam ditemani 50 orang. Penelitian tersebut memakan biaya besar. Tersebut dalam Nuzhat al-Musytaq, buku geografi, karya al-Idrisi, Al-Watsiq mengeluarkan biaya 5000 dinar untuk penelitian ini.
Rombongan Sallam berangkat ke Armenia. Di situ ia menemui Ishaq bin Ismail, penguasa Armenia. Dari Armenia ia berangkat lagi ke arah utara ke daerah-daerah Rusia. Ia membawa surat dari Ishaq ke penguasa Sarir, lalu ke Raja Lan, lalu ke penguasa Faylan (nama-nama daerah ini tidak dikenal sekarang). Penguasa Faylan mengutus lima penunjuk jalan untuk membantu Sallam sampai ke pegunungan Yakjuj dan Makjuj.
27 hari Sallam mengarungi puing-puing daerah Basjarat. Ia kemudian tiba di sebuah daerah luas bertanah hitam berbau tidak enak. Selama 10 hari, Sallam melewati daerah yang menyesakkan itu. Ia kemudian tiba di wilayah berantakan, tak berpenghuni. Penunjuk jalan mengatakan kepada Sallam bahwa daerah itu adalah daerah yang dihancurkan oleh Yakjuj dan Makjuj tempo dulu. Selama 6 hari, berjalan menuju daerah benteng. Daerah itu berpenghuni dan berada di balik gunung tempat Yakjuj-Makjuj berada.
Sallam kemudian pergi menuju pegunungan Yakjuj-Makjuj. Di situ ia melihat pegunungan yang terpisah lembah. Luas lembah sekitar 150 meter. Lembah ini ditutup tembok berpintu besi sekitar 50 meter.
Dalam Nuzhat al-Musytaq, gambaran Sallam tentang tembok dan pintu besi itu disebutkan dengan sangat detail (Anda yang ingin tahu bentuk detailnya, silakan baca: Muzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq, karya al-Syarif al-Idrisi, hal. 934 -938).
Al-Idrisi juga menceritakan bahwa menurut cerita Sallam penduduk di sekitar pegunungan biasanya memukul kunci pintu besi 3 kali dalam sehari. Setelah itu mereka menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengarkan reaksi dari dalam pintu. Ternyata, mereka mendengar gema teriakan dari dalam. Hal itu menunjukkan bahwa di dalam pintu betul-betul ada makhluk jenis manusia yang konon Yakjuj dan Makjuj itu.
Yakjuj dan Makjuj sendiri, menurut penuturan al-Syarif al-Idrisi dalam Nuzhat al-Musytaq, adalah dua suku keturunan Sam bin Nuh. Mereka sering mengganggu, menyerbu, dan membunuh suku-suku lain. Mereka pembuat onar dan sering menghancurkan suatu daerah. Masyarakat mengadukan kelakuan suku Yakjuj dan Makjuj kepada Iskandar Dzulkarnain, Raja Macedonia. Iskandar kemudian menggiring (mengusir) mereka ke sebuah pegunungan, lalu menutupnya dengan tembok dan pintu besi.
Menjelang Kiamat nanti, pintu itu akan jebol. Mereka keluar dan membuat onar dunia, sampai turunnya Nabi Isa al-Masih 'Alaihis Salam, di mana mereka muncul setelah kematian Dajjal yang dibunuh Nabi Isa 'Alaihis Salam, dan bangsa itu akan mendatangkan kerusakan besar di muka bumi. Kekuatan mereka dikatakan luar biasa dan terlalu hebat sehingga tidak ada siapa pun yang mampu menandingi mereka itu. Nabi Isa memerintahkan manusia yang masih beriman untuk berlindung di pegunungan untuk menghindari bangsa Yakjuj dan Makjuj. Nabi Isa kemudian berdo'a kepada Allah Ta'ala dan Allah membinasakan mereka dengan mengirimkan ulat yang menyerang belakang badan mereka itu hingga mati. Selepas bangsa Yakjuj dan Makjuj binasa serta membusuk, lalu Allah mengutus seekor burung besar untuk mengangkut dan membersihkan mayat-mayat mereka itu dari permukaan bumi.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah menyatakan kebimbangannya, yaitu pada zamannya, Yakjuj dan Makjuj dikatakan sudah berhasil melubangi benteng Dzulkarnain sebesar bulatan yang beliau bentuk dengan ibu jari dan telunjuknya.
Dalam Nuzhat al-Musytaq, al-Syarif al-Idrisi juga menuturkan bahwa Sallam pernah bertanya kepada penduduk sekitar pegunungan, apakah ada yang pernah melihat Yakjuj dan Makjuj. Mereka mengaku pernah melihat gerombolan orang di atas tembok penutup. Lalu angin badai bertiup melemparkan mereka. Penduduk di situ melihat tubuh mereka sangat kecil. Setelah itu, Sallam pulang melalui Taraz (Kazakhtan), kemudian Samarkand (Uzbekistan), lalu kota Ray (Iran), dan kembali ke istana al-Watsiq di Surra Man Ra’a, Iraq. Ia kemudian menceritakan dengan detail hasil penelitiannya kepada Khalifah.
Kalau menurut penuturan Ibnu Bathuthah dalam kitab Rahlat Ibn Bathuthah, pegunungan Yakjuj-Makjuj berada sekitar perjalanan 6 hari dari Cina. Penuturan ini tidak bertentangan dengan al-Syarif al-Idrisi. Soalnya di sebelah Barat Laut Cina adalah daerah-daerah Rusia.
___________________
Diolah dari berbagai sumber.
الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ – وَاَللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Semoga bermanfaat dan menjadi i'tibar bagi kita semua.
Dan semoga dapat menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah 'Azza wa Jalla, menambah wawasan, sekaligus pengetahuan kita semua.
Shalawat dan salam semoga Allah Ta'ala curahkan atas Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, juga kepada para keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya, termasuk kita sekalian hingga yaumul hisab.
Aamiin Ya Kariim.
Jazakumullah khayran katsiira wa barakallahu fiikum.
Salam ukhuwah selalu.
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ








0 comments:
Post a Comment